Thursday, May 12, 2016

Ayesha dan Cermin

#Bandunghari116

Awal mula Ayesha mengenal cermin ketika berusia tiga bulan, saat itu setiap setelah mandi, Bunda akan menghadap dengan Ayesha di gendongan sambil mengajaknya tertawa. Awalnya Ayesha terdiam lalu kemudian mulai bereaksi dengan tersenyum saat memperhatikan dirinya di depan cermin, tidak hanya itu Ayesha sering dengan sengaja mengubah ekspresinya kemudian kembali tertawa.  Mungkin baginya ada sosok bayi lain di depannya yang bisa dia ajak berkomunikasi.

Setelah tersebiasa berekspresi di depan cermin, suatu ketika Bunda sedang dandan bersiap ke kampus, karena jarak cermin agak berjauhan dengan tempat tidur yang saat itu Ayesha belum bisa duduk sendiri dan merangkak.  Jadi Bunda mengambil cermin tangan yang ukurannya agak besar kemudian berdandan di samping Ayesha, penasaran dengan aktivitas Bunda....Ayesha pun menarik-narik cermin yang dipegang Bunda.  Akhirnya Bunda memberikannya dan ternyata responnya di luar dugaan, Ayesha sangat senang dan seolah mengerti arti cermin dia pun memperhatikan dirinya dan sesekali melihat Bunda sambil tersenyum.

Sejak kejadian itu, setiap Bunda memegang cermin tangan tersebut maka dengan segera Ayesha berusaha meraihnya walaupun sebenarnya dia sedang bermain dengan aneka mainannya.  Mungkin naluri perempuan karena dibandingkan dengan Fatih dulu waktu seusia Ayesha tidak melakukan hal serupa.  Cermin bagi Fatih biasa saja, hanya sekadar melihat dirinya namun tidak bagi Ayesha...dengan cermin seolah Ayesha harus memberikan ekspresi yang seolah-olah mengajak orang yang di liat di dalam cermin itu untuk berinteraksi.

Ayesha dan Cermin

Pose bersama cermin

Dan lucunya, saat Ayesha sudah memegang cermin maka sulit bagi Bunda untuk mengambilnya kembali kecuali bila dia sudah bosan yang serta merta akan diletakkannya. Bagi Bunda sangatlah lumrah bila anak perempuan lebih menyukai cermin dan hal-hal yang berbau dandan dibandingkan anak lelaki.  Selain karena sering melihat Bundanya berinteraksi dengan benda-benda tersebut juga karena anak senang bermain dan penasaran akan aneka benda yang baru baginya.  Terlebih lagi naluri perempuan yang bisa saja sudah mulai berkembang sejak kecil yaitu menyukai dandan.

Sadar akan fitrah anak yang akan mencontoh sifat dan kebiasaan orang yang ada di sekelilingnya, Bunda merasa perlu lebih bijak bertingkah laku.  Karena segala perbuatan dan perilaku Bunda menjadi contoh bagi Fatih dan Ayesha terlebih lagi saat ini hanya kami bertiga di rantau.  Dan Bunda lah yang akan banyak memberi pengaruh baik atau buruk bagi mereka sejauh ini.  Saat berdandan (bersisir, memakai celak, dan kerudung) Fatih pun ikut memegang apa yang Bunda pegang, saat itulah Bunda berusaha menjelaskan bahwa yang Bunda gunakan, ada yang boleh dan ada yang tidak boleh digunakan oleh anak lelaki seperti Fatih tetapi Ayesha boleh menggunakannya.

Meski awalnya belum mengerti, tetapi "sounding" yang berulang memberi efek kepada mereka, hal ini terlihat saat Fatih memegang perlengkapan dandan perempuan, hanya sekadar memegang dan memainkannya.  Tidal lagi memakainya seperti yang Bunda lakukan, mungkin karena sudah mengerti lagi pula sering melihat Bunda dan Ayesha saat akan keluar rumah menggunakan kerudung sedangkan Fatih memakai topi.  Begitu pula saat Ayah datang mengunjungi kami, Fatih dan Ayah bila ingin keluar tidak menggunakan kerudung seperti Bunda dan Ayesha, itulah konsep perbedaan pakaian antara laki-laki dan perempuan.  

Kembali tentang "Ayesha dan Cermin", meski anak perempuan, Bunda tidak ingin kelak saat besar nanti Ayesha senang berdandan karena Bunda tidak mencontohkan hal tersebut dalam keseharian.  Hal terpenting adalah kebersihan seluruh badan yang harus selalu dijaga, dan untuk tampil cantik tidak harus dengan "berdandan".

#ODOPfor99days #day95

0 comments:

Post a Comment

 

Petualangan Fatih dan Ayesha Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates